Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

All about Kania and ...

Check this out

Blog EntryDec 4, '08 9:33 PM
for everyone
Saat melewati  halaman menuju gudang belakang, tiba-tiba mata Abe tertuju padasebuah tutup kaleng cat yang sangat kotor dan separuhnya sudah tertimbun tanah. Begitu melihat benda tersebut, Abe langsung teringat Ibn yang kemana-mana selalu membawa benda bulat untuk dijadikan stir mainan. Apakah itu tutup toples, atau apa saja, yang paling parah adalah sewaktu pergi ke pesta pernikahan seorang kerabat, dimana Ibn ngotot untuk membawa penggorengan mainan berwarna merah muda, ke pesta tersebut. 
    "wah, benda ini pasti bisa dijadikan stir mainan" ujar Abe dalam hati sambil mengambil tutup cat tersebut dan berjalan menuju keran taman untuk membersihkannya. 
    Saat itu pula Abe melihat onggokan selang air yang sudah tidak terpakai."Hhhmmmm... selang ini jika dibelah bisa dijadikan pelapis stir mainan yang akan ku buat" pikir Abe lagi. "Ah, tapi nanti saja dech" sahut Abe pada dirinya sendiri.
    Dan stir mainan itupun selesai dalam waktu singkat. Ketika selesai memotong stir mainan tersebut sesuai pola, Abe melihat lakban hitam yang masih banyak tersisa di kotak mainan Ibn. "Hhhmmm... sepertinya lebih bagus jika stir ini dilapisi oleh lakban hitam daripada dengan selang bekas itu" pikir Abe sambil mengambil lakban hitam tersebut dan melapisi stir dengannya.
    Stir mainan itupun diserahkan kepada Ibn sepulangnya dari sekolah. Dapat dibayangkan betapa senangnya Ibn. Tidur siangpun menjadi perkara mudah. Ibn tidur siang sambil memegang stir, bahkan ketika terbangunpun, Ibn langsung loncat dan mencari stirnya tersebut, hehehe. (3 Dec 2008)
    Ada niat untuk menambahkan klakson, tapi tempat untuk itu tak memungkinkan. Mungkin lain waktu, jika menemukan tutup kaleng yang lebih besar, bagian tengah stir akan disambungkan dengan bel, batere dan kawat, untuk membuat klaksonnya.

Blog EntryNov 26, '08 12:43 AM
for everyone
Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk jalan pagi sekeluarga keliling kompleks. Setiap kegiatan bersama kami berusaha untuk membuat tema edukasi untuk Ibn Danish, 4th. Tema jalan pagi kali ini adalah membuat peta satu blok kompleks. Maka kami pun membawa serta 1 lembar kertas kosong yang dijepit pada papan berjalan dan sebuah pensil berwarna. 
Ibn Danish yang kami beritahu bahwa kita akan jalan kaki keliling kompleks sambil membuat peta, bersemangat sekali. Ia langsung memegang eralat tulis yang diberikan. Berlari mencari dan menggunakan sandal, kemudian bergegas ke depan rumah. 
Sampai depan rumah Danish langsung membuat dua garis lurus sebagai lambang jalan. "Wah... belum diajarkan sudah mengerti", pikirku. Lalu aku minta dia untuk membuat 2 buah kotak sebagai   lambang rumah dan studio Arrow'93. Dan juga menambahkan satu jalan yang tegak lurus mengarah ke studio. Kami juga memberitahu bagaimana menentukan arah mata angin dengan melihat letak matahari.
Kamipun mulai berjalan ke arah utara. Setiap ada persimpangan jalan, kami berhenti dan Ibn Danish menggambarkan sendiri jalan tersebut. Pada pertigaan pertama, Ibn memilih untuk berbelok kearah barat. Setelah melewati 2 rumah, kami bertemu dengan perempatan. yang mana jalan yang kearah utara dan barat diportal. Kami meminta Ibn untuk membuat lambang jika jalan tersebut tertutup atau diportal. Ibn pun memilih jalan kearah selatan.
kami berjalan sesuai keinginan Ibn Danish melangkah. kami hanya mengawasi dia berjalan dan menggambarkan petanya. Sehingga peta tersebutbenar-benar hasil karya dia.
Melewati dua rumah kami pun bertemu lagi dengan perempatan. Ibn dengan sigap menggambar perempatan tersebut, tepat sesuai dengan kondisi  perempatan yang tidak saling tegak lurus, yang mana jalan yang menuju kearah timur dan barat tidak tepat berhadapan, tapi jalan yang menuju ke arah barat lebih ke arah selatan kira-kira 2 meter.
Berhenti di pinggir perempatan tersebut kami mengingatkan ibn. Ingat tidak ini jalan yang menuju studio, dan memang studio tampak dari jalan tersebut. Lalu kami menyarankan Ibn Danish untuk menghubungkan dua jalan tersebut. Ibn Danish bersemangat sekali mengetahui jalannya yangbisaberhubungan tersebut. Kami pun melanjutkan perjalanan kearah selatan lalu kearah timur. 
Saat melewati masjid kami pun memintanya untuk memberi  tanda, karena bangunan-bangunan tertentu merupakan tanda yang berharga di peta.
diujung jalan Ibn memilh berjalan kearah utara. Ibn menemukan lagi satu pertigaan yang berhubungan, ketika menggambarnya di peta, karena ia melihat mobil yang sama.
Kebetulan jalan yang kami tempuh, menghasilkan gambar seperti empat persegi panjang. Oleh karena itu kami beritahu Ibn, bahwa jika jalan yang digambarnya tidak bertemu  di titik awal, dimana kita mulai, maka peta tersebut salah. Dan saat dilihatnya rumah didepan mata, dan jalan di peta yang digambarnya menyambung, Ibn gembira sekali,karena peta yang dibuatnya berarti benar. Ia lalu dengan bersemangat berlari masuk dalam rumah untuk menunjukkan peta yang baru dibuatnya ke Opa dan Ninnya.



PS: Acara peretaan selanjutnya kita akan menuliskan nama jalan.

Blog EntryNov 7, '08 10:00 PM
for everyone
Jakarta, 7 Nov 2008
Dimanakah BCL dan Ashraf malam hari sebelum pernikahan mereka?
tentunya banyak persiapan yang harus mereka lakukan untuk menyambut hari besar mereka berdua.

Saat itu KOPDAR flickr di Bumbu Desa, Cikini ...
photo BCL & Ashraf klik disini

Blog EntryNov 6, '08 7:31 PM
for everyone
Memilih adalah hal yang sangat sulit bagiku ... 
dan sekarang aku diminta untuk memilih ...
Argh ... apa yang harus kulakukan dengan pilihan yang begitu banyak tapi aku hanya boleh memilih satu saja ...
Akhirnya ku kumpulkan semua bahan yang ada ... kupilih satu demi satu ...
Aku ingin agar pilihan aku itu benar-benar dapat mewakili dan tak lekang oleh zaman ...

Yup, aku mendapat tugas dari sekolah Kinderfiled, tempat anakku, Ibn Danish, 4 tahun, menyelesaikan playgroup dan taman kanak-kanaknya.
Aku diminta untuk memberikan foto, dari Ibn lahir hingga sekarang, dimana 1 tahun diwakili oleh 1 foto ..
Hayyyyyah ... gimana cara milih hanya satu photo dari tiap satu tahun kehidupan Ibn yang mempunyai banyak sekali cerita dan kejadian serta peristiwa ...?

Akhirnya....
Ya ! Akhirnya aku dapat memutuskan! Aku dapat memilih. 
Tumben bisa cepat memilih.
Dan inilah hasilnya ...

Foto pertama adalah merepresentasikan masa-masa dimana Ibn baru lahir. Aku memilih foto saat Ibn berada di acara Aqiqah dan gunting rambut. Pada acara Aqiqah tersebut kami sebagai orang tuanya memotong 2 ekor kambing, menggunting rambutnya, memberinya nama; Ibn Danish Rabbani Basri.
Ibn yang berarti Son
Danish yang berarti wisdom and knowledge
Rabbani yang berarti wise dan soleh
Basri nama keluarga yang berarti pandangan
Dan kami mendoakan semua yang terbaik untuk Ibn. Waktu itu usia Ibn baru 40 hari


Foto kedua jatuh pilihan pada saat Ibn berumur satu tahun. Saat itu Ibn sudah bersekolah di Kinderland, Pre-school & Kindergarden, teman-temannya banyak dari berbagai negara. Seru juga Ibn berkumpul dengan berbagai ras dan suku bangsa. Ibn masuk kelas Playgroup. Lucu dech, pertama kali masuk, Ibn masih suka merangkak, jalannya pun belum benar, berbicara masih belum jelas. Ibn menikmati sekolahnya dari jam 08.30 hingga 10.00 pagi. Ada pelajaran yang Ibn tidak suka, yaitu pelajaran yang memintanya untuk mengotori tangannya dengan cat atau lem. Ibn pasti menangis jika pelajaran "art & craft" yang mengharuskannya mengotori tangannya. kalaupun mau mengerjakannya, pastinya dilakukan dengan memasang tampang yang jijik. Oya ,kelas Playgroup di Kinderland, masing-masing anak masih ditemani oleh satu orang tuanya. Ibn bersekolah di Kinderland hingga Pre Nurseri 1, saat usianya mencapai 2 tahun. Di Kelas Pre Nursery 1, Ibn sudah mandiri, tidak ditemani lagi oleh orang tuanya. tiap pagi ia akan berkumpul di hall bersama teman-temannya satu sekolah, untuk bersosialisasi satu sekolah, menyanyi, atraksi, manggung dan lain sebagainya sebelum akhirnya masuk ke kelas masing-masing.


Foto ketiga adalah saat Ibn berulang tahun yang kedua. Pada ulang tahun kedua inilah, pertama kali ulang tahunnya dirayakan, karena kami sebagai orang tuanya mengagap Ibn sudah mengerti, apa itu arti ulang tahun. Kami menyediakan ice cream cake dari Baskin Robbins dan berpesta bersama keluarga di Arabian Resto di daerah kemang. Karena Ibn banyak sekali Alerginya maka kami memilih restoran tersebut agar banyak pilihan menu yang dapat Ibn nikmatin. Ibn alergi terhadap susu sapi (lactose intolerant), kecuali yogurt. Alergi terhadap telur, coklat, dan seafood. Dari fotonya tampak sekali Ibn menikmati menyanyikan lagu happy birthday dan meniup lilin. hehehe ... jadi terharu juga



Foto keempat adalah saat Ibn berusia 3 tahun, menerima termly report di Kiddy 2, KInderfield. Ibn pindah dari Kinderland ke Kinderfield dan masuk ke Kiddy 1. Setelah berumur 3 tahun Ibn naik kelas ke ke Kiddy 2. Gurunya yang mengajar saat itu di Kiddy 2 adalah Miss Dita dan Miss Ayu, yang sekarang sudah tidak mengajar lagi karena melanjutkan sekolah ke luar negeri. Perkembangan Ibn dilaporkan setiap minggu oleh keduan guru favorite Ibn tersebut. 


Dan Foto kelima adalah saat Ibn Berusia 4 tahun. foto yang terpilih adalah saat Ibn pertama kali memeriksakan matanya di RS Mata Aini. Ibn excited sekali waktu diperiksa matanya. Dan karena Ibn sudah bisa membaca, maka pemeriksaan menjadi mudah, Ibn bisa menyebutkan semua angka dan huruf yang ditanya. Dan dokternya menyatakan bahwa matanya normal. Alhamdulillah





Blog EntryNov 5, '08 11:42 PM
for everyone
hehehe ... mau tau silahkan klik disini

Blog EntrySep 21, '08 1:58 AM
for everyone
terbangun dan langsung melihat jam. 
"wah udah jam 4 sore lewat". 
"teh kici and mba Lily jadi kopdar ga sih, koq ga ada kabarnya?"
melanjutkan dengan kegiatan standard dengan sign in di YM dan plurk.
"wah tehkici, ga OL, mungkin jadi ya kopdarnya?"
mengirim sms dan memperoleh jawaban jika tehkici sudah dalam perjalanan.

singkat kata jadi dech kopdar sama pengguna multiply di plaza semanggi.
seru banget


Blog EntryAug 28, '08 9:47 AM
for everyone
Jantung Yuli berdegup cepat, detaknya serasa membahana keseluruh ruangan yang riuh itu. Keringat dingin ditelapak tangannya membasahi pegangan bangku dimana ia sedang duduk gelisah bagaikan menduduki puluhan kerikil bertebaran. Bau aneh yang baru pertama kali diciumnya, yang menyengat, membuatnya sedikit pusing. Deru mesin yang kencang di luar sana memenuhi telinganya. Pikirannya kacau, serasa kosong, tak bisa berpikir, tak bisa tenang.

Tubuhnya yang sedikit gemuk itu berkeringat.  Padahal suhu diruangan itu sangat dingin, untuk ukuran orang yang berdiam di sebuah kota kecil di pinggir pantai di Jawa Timur. Jaket dan syal yang dibawanya diletakkan di pangkuan. Sepatu olah raga berukuran 39 serasa ikut basah bersama kaos kaki yang dikenakannya. Wajah awet muda nan menarik di usianya yang genap 40 tahun, yang biasanya dihiasi senyum dan tawa, kini yang tampak hanya kecemasan dan ketegangan.

Tak sengaja ia menoleh ke kanan, ia memandang ke luar jendela berbentuk oval. Memandangi jalan aspal yang sangat lebar yang baru pertama kali dilihatnya. Dan lampu-lampu terang benderang berbaris serasa tersenyum padanya di malam yang gelap. Mobil terbuka yang dibelakangnya menggandeng beberapa bak beroda berisi penuh barang yang ditutupi terpal, tampak beberapa yang hilir mudik.

Sambil memandang keluar jendela kecilnya, pikirannya berkecamuk.
"Aduh... kenapa semua wejangan yang tadi mbak Kitty berikan hilang semua?"
"Aku disuruh apa aja ya tadi?"
"Hhhmmm.... atau aku batalkan saja ya semua?"
"Iya dech, batal saja."

Yuli pun hendak beranjak dari bangku empuk yang serasa bertebaran kerikil itu, saat dari balik jendela kecilnya ia melihat lampu-lampu bergerak ke atas. Setelah memicingkan matanya, melalui kacamata sederhanya yang minus dua, ia menyadari bahwa itu adalah pesawat yang tinggal landas. Tanpa sadar ia mengurungkan niatnya untuk beranjak, dan spontan ia berdoa. berdoa untuk keselamatan pesawat yang baru tinggal landas tersebut. Dan juga berdoa untuk keselamatan dirinya dan semua penumpang pesawat yang sedang bersamanya saat itu.

Setelah bedoa, semua kegelisahan yang mendera akibat kali pertama naik pesawat, sedikit mereda. Keinginanya untuk pergi menengok anaknya yang sedang kuliah di Moscow begitu kuat, mengalahkan pikiran yang mengajurkannya untuk membatalkan semuanya. 

"malam mbak." sapa seorang wanita muda cantik berperawakan langsing yang duduk di sebelah Yuli kepadanya.
"malam." balas Yuli dengan muka masih tampak cemas, walau tak segalau tadi, dan sedikit bingung karena tak menyadari jika disebelahnya sudah duduk seseorang.
"Bener ya, ini pesawat ke Moscow?" tanya Yuli yang sudah semakin tenang
"Pesawat ini hanya sampai Dubai. Nanti kalau mbak mau ke Moscow, mbak harus ganti pesawat, di Dubai." jawab wanita ramah itu
"Iya sih, tadi mbak Kitty juga udah bilang gitu, karena Emirates ..."

"Good evening ladies and gentlemen. Welcome aboard to Emirates EK 349. This is important that you pay attention as we demonstrate the safety feature on board this aircraft" Suara pramugari yang renyah dan empuk, yang keluar dari pengeras suara dari ujung gang tersebut menghentikan percakapan  Yuli dan teman barunya.
"wah... kata mbak Kitty aku harus memperhatikan apa yang diperagakan pramugari" sahut Yuli kepada teman baru disebelahnya.
Teman barunya hanya tersenyum dan ikut memperhatikan pramugari tersebut sebentar dan kemudian sibuk dengan majalah yang dibawanya.

Yuli yang sedikit mengerti Bahasa Inggris memperhatikan dengan cermat apa yang dikatakan dan diperagakan pramugari tersebut. Perhatiannya yang penuh terhadap pramugari tersebut membuat hati Yuli pun menjadi berangsur menjadi lebih tenang. Iya yakin bahwa segala kemungkinan yang akan terjadi sudah diantisipasi.

Setelah pramugari tersebut mengucapkan, "Thank you for your attention. Your crew will now pass through the cabin to carring out the final check.", Yuli pun tak lagi memperhatikan pramugari tadi. Ia tahu bahwa pramugari tersebut sudah selesai menjelaskan keselamatan penerbangan. Yuli pun sibuk membetulkan posisi duduknya, dan kemudian mengenakan jaket dan syalnya karena udara terasa menjadi lebih dingin. Saat sedang sibuk berbenah diri, ia mendengar sang pramugari berkata-kata dalam bahasa Arab. Langsung saja, Yuli menghentikan semua kegiatannya. Mengadahkan tangannya, dan mengAmieni dalam hati, setiap jeda dari perkataan pramugari tersebut. Ia mengamini dengan hikmad, berdoa dan memohon keselatan semua penumpang yang terbang bersamanya.

Setelah beberapa lama mengamini,  ia merasa heran, kenapa doa-doa yang dikatakan pramugari tersebut tak ada yang dikenalnya. Ia pun mengadahkan kepalanya dan melihat kearah pramugari tersebut. Ternyata, sang pramugari sedang mendemostrasikan feature keselamatan dalam bahasa Arab.

"Ha...Ha...Ha..., Semprul!" bisik Yuli dalam hati, sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, menahan tawa, dengan wajah bersemu merah karena malu pada dirinya sendiri.
"Untung tak ada yang memperhatikan" pikirnya, sambil melirik ke teman baru disebelahnya yang masih asyik membaca majalah

Blog EntryAug 28, '08 9:38 AM
for everyone

"Tunggu sebentar ya, Nin Mia sedang mandi." sambut Ibn Danish dan mempersilahkan kedua neneknya, Nin Dadi dan Nin Yati yang datang bertandang ke rumah, untuk masuk dan duduk di ruang keluarga. Ibn Danish pun seperti biasa menawarkan minuman dan makanan ringan untuk kedua neneknya tersebut. Ya, begitulah Ibn Danish, anak laki-laki ku satu-satunya. Walaupun baru berumur 4 tahun, tapi kalau istilah orang Jawa dan Sunda bilang, "Merue." atau "Kokolot Begok". Ibn Danish selalu bersemangat jika ada tamu yang bertandang ke rumah, walau tamu yang datang lebih banyak hendak menemui nenek atau kakeknya, pasti ia akan ikut duduk menemani dan mengobrol dengan tamu-tamu tersebut, serta melayani mereka, benar-benar tuan rumah yang baik. Anakku yang bertubuh ramping, berambut dengan ekor sampai dibawah tengkuk, dengan matanya yang bulat besar, memang sudah dikenal keramahanya oleh tamu-tamu yang sering datang

Setelah semua siap, maka berangkatlah rombongan kecil itu menuju Rumah Sakit Mata Aini.

"Aduh... Innova hitam itu benar-benar keterlaluan, hati-hati dong kalau mau keluar parkir." Nin Yati setengah berteriak, ketika aku ngerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan mobil tersebut.
"Itu bukan Innova, Nin. Itu mobil Avanza." Jawab Ibn Danish dengan tegas. Ya... sejak berumur 2 tahun, Ia memang sudah hafal sebagian besar nama dan merk dan jenis mobil yang banyak berseliweran di jalan raya.

Tit... tit... tit... Tiba-tiba suara handphone berbunyi. Danish dengan sigap mengambil handphone dari tas kulit yang disandangnya.
"Wah kecil-kecil sudah punya handphone, dan dapat SMS lagi." Komentar Nin Dadi kepada Ibn Danish
"Iya, Soalnya Danish sudah bisa baca SMS, jadi boleh punya handphone." Jawab Ibn Danish dengan bangga.
Ibn Danish pun dengan agak terbata-bata membaca SMS yang diterimanya yang ternyata dari Opanya. Dan kemudian membalas SMS tersebut.
Aku memang mengijinkannya memiliki handphone jika sudah bisa membaca SMS dan mengoperasikan handphone sendiri. Menurutku hal tersebut bagus untuk melatihnya lancar membaca.

Perjalanan menuju rumah sakit membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam. Sepanjang perjalanan, Ketiga nenek Ibn Danish, yaitu Nin Mia, Nin Yati, and Nin Dadi membahas banyak hal, salah satunya tentang prosedur pemeriksaan mata cara lama yang masih menusuk dan mencolok mata untuk sekedar pemeriksaan katarak, yang mana sekarang sudah lama tak dilakukan, cukup dengan menggunakan teknologi komputer, yang bisa menunjukkan ketebalan katarak.

Sesampainya di Rumah Sakit Mata Aini, Kami berlima langsung mendaftar untuk memeriksakan mata masing-masing. Ibn Danish yang sedari tadi bersama dengan nenek-neneknya sekarang berpegangan rapat denganku. Tanganku dipegangnya erat. Wajahnya memandangku dengan penuh kecemasan.

"Umi, Danish juga periksa mata?"
"Iya." jawabku cepat kepada Ibn Danish sembari mengurus administrasi, karena ini kali pertama aku dan Ibn Danish ke rumah sakit tersebut.
"Tapi Danih gak mau di colok." sahut Danish sambil matanya mulai berkaca-kaca.
Aku tersenyum dan tertawa dalam hati, pasti anakku ketakutan karena selama di mobil ikut menguping pembicaraan nenek-neneknya yang membahas tentang metode lama pemeriksaan katarak yang masih dengan cara menusuk bola mata.
"Gak dong, masa di colok? Ibn kan pernah anter Jidah periksa mata ke Jakarta Eye Centre? Ga di colok kan matanya, cuma disuruh duduk dan liat ke alat lewat lubang, terus matanya seperti ditiup angin?" jawabku menenangkannya
Ibn Danish pun mengangguk, tapi wajahnya masih penuh keraguan, tanganku masih dipagang erat olehnya.

"Ibn Danish!" seru petugas reflaksi, giliran anakku untuk diperiksa pendahuluan sebelum ke dokter mata.
Kami pun masuk ke suatu ruangan yang banyak alat periksa mata.
Ibn Danish tampak tenang, alat-alat tersebut sudah sering dilihatnya saat mengantar jidahnya ke dokter mata.
Ia duduk dengan tenang ketika periksa fisik mata dengan cara ditiup bola matanya. Tidak menangis atau tegang, ia melewati proses tersebut dengan lancar. Dan ketika pemeriksaan jarak pandang dengan menggunakan angka dan huruf, ia pun dapat melewatinya dengan mudah. Ketika kacamata periksa digunakan ia pun tidak protes.

Selesai itu semua, Ibn Danish mengantri dengan sabar ketika menunggu giliran diperiksa oleh doker mata. Ia kebetulan bertemu dengan anak sebaya di ruang tunggu. Ibn Danish pun bermain dan berlarian dengan anak tersebut. Untunglah Ibn Danish ternasuk anak yang mudah bergaul, sehingga dimana saja dia akan mendapat teman baru, entah itu anak-anak, remaja, orang dewasa, maupun nenek-nenek atau kakek-kakek. Jika ia sedang memegang mainan atau makanan/minuman,  pasti dia mau 'share' dengan orang-orang disekitarnya. Jika temannya tidak mau 'share' Ibn Danish pun tidak menuntut, tapi entah bagaimana caranya pasti tidak lama kemudian temannya tersebut dengan senang hati 'share' dengan Ibn Danish. Senang dan bersyukur memiki anak yang 'humble'

Ketika ketiga neneknya dipanggil masuk ke ruangan dokter yang berbeda dengan dokter yang akan memeriksa Ibn Danish, Ia ikut masuk menyusul setelah terlebih dahulu menanyakan dan mendapat ijin  dariku untuk menyusul ketiga neneknya ke dalam ruang periksa.
"Boleh ikut ngintip Nin?" tanya Ibn Danish kepada dokter yang hendak memeriksa Nin ya.
"Boleh, ayo sini" Jawab sang dokter mata sambil melambaikan tangannya ke Ibn Danish.
Ibn Danish pun melangkah masuk dan salim kepada dokter tersbut.





Blog EntryJun 13, '08 2:25 PM
for everyone
Abe sedang bermain dengan Ibn, tiba-tiba Ibn menggelindingkan bola dari dalam mouse yang rusak. Langsung saja Abe bertanya ke Ibn, "kenapa bola bisa menggelinding Ibn." dan sebelum dijawab oleh Ibn,"Karena tidak ada ujungnya atau sudutnya."

Abe kemudian mengambil mainan block puzzle Ibn yang terdiri dari lingkaran, empat persegi panjang, segitiga, bujur sangkar.

Abe mengambil block puzzle bujur sangkar,"Ini ada berapa ujungnya atau sudutnya Ibn?". "Empat." jawab Ibn setelah menghitung jumlah sudut dengan cepat. "Coba digelindingkan, bisa ga?", Ibn lalu mencobanya dan menjawab,"Tidak bisa!". Hal yang sama dilakukan terhadap block puzzle segitiga dan empat persegi panjang, dan menjawab jawaban yang sama pula dari Ibn.

Abe lalu mengambil block puzzle lingkaran,"Coba klo yang ini ada berapa sudutnya?". Danish dengan sigap menjawab;" Tidak ada!". Kemudian Abe menyerahkan block puzzle tersebut ke Ibn, "Coba gelindingkan, bisa ga?". "Bisa!" Jawab Danish dengan yakin sambil menggelindingkannya untuk membuktikan. "Tuh,bisa kan Abe?", Abenya lalu bertanya lagi,"Kenapa bisa menggelinding, Ibn?". "Karena tidak ada sudutnya!" Jawab Danis dengan tegas dan mantap.

"Wah...fotoku sepertinya keren banget nich"
"Kayaknya pantas untuk dipamerkan di web foto favoritku"
"Terlebih lagi poseku sudah bagaikan foto model profesional."

Dan banyak lagi, pikiran yang berseliweran di benak Kania, yang saat itu dalam perjalanan pulang dari tempat laundry.

"Wah, sudah pingin cepat-cepat sampai rumah, agar bisa cepat up load foto"
"Aduh... jam segini masih macet?"
"Lama sekali, sih?"

Sesampainya di kamar kerjanya, Kania langsung mentranfer semua data foto yang terdapat di kamera kesayanganya ke dalam komputer.
Baru beberapa detik proses transfer foto,
"Aduh... lama sekali sih proses transfer fotonya?"
Setelah gelisah tak sabaran, tak lama kemudian,
"Nah.. akhirnya, semua foto selesai juga di transfer."

Segera saja Kania dengan tidak sabar mengscroll satu persatu foto, untuk segera melihat foto andalannya tadi. Beberapa detik detik kemudian,

"Argh! koq gini fotonya? Kenapa fokusnya ada di mas mas tukang laundry dan di mesin cuci?"
"Coba lihat! aku malah terlihat lebih blur dari pakaianku yang akan di laundry."
Setengah menangis Kania melihat fotonya itu. Bagimana tidak merana, moment foto tadi tidak mungkin di ulang. Kania juga sudah sangat bersemangat dan yakin untuk segera mengup load foto tersebut ke web kesayangannya.



"Hhmmm... ok, tenang Kania."
"Tapi, itu fotonya kenapa begitu? hiks."
"Kau kan masih bisa mengedit foto tersebut agar objek dirimu yang tidak fokus itu dapat menjadi point of interest."
"Iya, tapi coba lihat, benar-benar fokus tidak terletak padaku dan komposisi fotonya terlalu ramai"
"Tapi sebenernya foto ini bercerita, bagus sih, tapi..."
Kania berguman dengan dirinya sendiri, sambil membuat suatu rencana kecil bagaimana langkah-langkah untuk mengedit fotonya tersbut.
Rencanya yang akan dilakukan Kania adalah mengatur kompisisi foto untuk menjadikan Kania sebagai poin of interest. Dan kemudian membuat 3 objek edit atau 3 layer foto yang kemudian akan ditumpuk menjadi satu. Hasilnya kemudian di edit kembali, untuk memperoleh hasil sesuai yang diinginkan

"Pertama aku akan copy dan membuat file baru dari foto aslinya. File tersebut aku safe dengan nama Kania at Laundry, dengan tipe file objek atau layer 1."
Guman Kania sambil mengarahkan kursor di layar komputer.
"Di crop dikit ah, biar tidak terlalu banyak objek selain aku"
"nah gini kan lumayan"



"Sip, sekarang copy and paste Kania at Laundry, kemudian hapus sisi depan dari objek Kania"
"Sepertinya lebih gampang jika menghapusnya menggunakan object paint eraser tool. Dan supaya lebih rapih, viewnya dibesarin dulu sampe 200-400 %.
"Hehehe, asyik juga mengerjakan ini"
Setelah semua terhapus sesuai keinginan, Kania lalu mensave hasil editan tersebut sebagai Kania at Laundry blur dengan tipe file objek atau layer 2.
"Oya, hampir saja aku lupa membuat file ini menjadi blur."
"Blur sedikit aja, agar tidak terlalu tampak artifisialnya"



  
Nah, sekarang pekerjaan yang lumayan perlu ketelitian, yaitu membuat layer 3. Layer ketiga adalah menghapus semua pada foto Kania at Laundry, dengan meninggalkan hanya objek Kanianya saja. Dilakukan dengan mengunakan object paint eraser tool. Kemudian di save sebagai Kania at Laundry object dengan tipe file objek atau layer 3.



 
"Ok dech, sekarang menggabungkan atau menyatukan ketiga objek atau layer tadi."
Kania lalu membuka file baru, untuk meletakkan layer 1, kemudian layer 2, dan terakhir layer 3, yang kemudian disave menjadi satu objek dalam bentuk jpg.
"Hhhmmm.... sekarang file yang sudah dalam bentuk jpg ini akan saya edit lagi. Apa ya yang perlu ditambahkan dan dikurang?"
Kania mengguman sambil mencoba-coba elemen edit foto untuk memperoleh hasil yang sesuai keinginannya.



Dan tak lama kemudian,
"Akhirnya jadi juga, lumayan lah daripada yang aslinya."
Kania mengguman dengan nada masih kurang puas sambil memandangi hasil olahannya di komputer.
"Nah sekarang tinggal up load di salah satu web photo, dan tunggu dech komentar serta kritik dari teman-teman dan para guru."
Ujar Kania sambil mengup load foto hasil olahannya tadi ke salah satu web foto yang membuatnya ketagihan.

Blog EntryMay 18, '08 1:42 PM
for everyone
Sayang aku ga ikut acara Danish harini, tapi denger ceritanya asyik juga, jadi senyam senyum sendiri. Ibn Danish katanya mancing di kolam pemancingan dan restaurant Bu Ning, di Sentul Selatan. Mancing at the first time of his life, and 8 kali lempar umpan pancing dan berhasil memperoleh 6 ikan. Wow.. cuma miss 2 kali pancingan. "Wah..Ternyata Danish hebat sekali...!!!!", kata Ibn Danish memuji dirinya sendiri...
klik dini untuk lihat hasil pancingan Danish

Blog EntryMay 16, '08 10:01 AM
for everyone
"aduh... Sita kenapa telpon melulu sih, pasti karena suka sama Danish." Omel Danish sambil tetap saja mengakat dan menerima telepon dari Sita. "Iya... aku sekarang masih di rumah. Iya... nanti kita ketemu di Hotel PIM." panjang lebar aku dengar Danish ngobrol dengan Sita. Aku hanya bisa tersenyum sendiri melihat tingkah laku anak lelakiku yang baru berusia 4 tahun itu. sehari itu sudah beberapa kali dia mengobrol dengan sita di telepon. Hasyim... tiba-tiba Danish bersin, secara reflek tanganku meraih kotak tisu yang sedari tadi di pegangnya. "Umi, jangan!" protes Danish. "Ini kan telepon Danish." "Iya, maaf ya, sayangku, buju-bujuku." sahutku, sambil pergi mengabil tisu dari atas meja, untuk mengelap ingus yang sudah hampir sampai ke mulutnya.
 

Blog EntryMay 16, '08 2:24 AM
for everyone
    Kegiatan yang mengasyikkan dan selalu kutunggu setiap hari adalah flickring. Flickr adalah suatu web sites dimana aku dan teman-teman dapat mengupload foto. Disana kita dapat saling memberikan komentar. Komentar yang diberikan bermacam-macam, ada yang sesuai tema, menganalisa, mengkritik, menghujat, memuji, meledek, berkelekar, bahkan ada yang sama sekali tidak berhubungan dengan tema foto. Dengan memberikan dan menerima komentar, aku mempunyai banyak teman, belajar bersosialisasi, dan juga melatih penggunaan bahasa asing.
    Hanya dengan menuliskan dan membaca komentar di flikcr, membuat hati dan hariku semakin berseri.
    klik disini untuk melihat dunia flickrku

Blog EntryMay 16, '08 2:08 AM
for everyone
    Akhir-akhir ini aku jarang membaca buku, lebih sering browsing di internet. Ketika ditanya buku apa yang terakhir aku baca, yang teringat langsung adalah buku Harry Potter, karya J.K. Rowling. Tapi kemudian, alam pikiranku yang lain mengingatkan jika buku yang terakhir aku baca adalah Slow and Steady Get Me Ready, karya June R. Oberlander, sebuah buku tentang pedoman pengembangan anak usia dini. Kemudian sang terkasih yang mendengar aku sedang komat-kamit mengingat buku apa yang terakhir dibaca, mengatakan,"buku terakhir yang kau baca adalah Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman El Shirazy.", aku langsung menyahut,"O iya, terima kasih sudah mengingatkan."
    Aku jadi teringat, pertama kali mengetahui tentang Ayat Ayat Cinta, dari sepupuku, Dinda, seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Rostov, Rusia. Ketika online bareng ia terus menerus menanyakan, bilamana film Ayat Ayat Cinta sudah tayang. Dinda bercerita bahwa film Ayat Ayat Cinta adalah sebuah film berdasarkan sebuah novel dengan judul yang sama. Dinda bahkan sudah membaca novel itu beberapa kali, disela-sela kesibukan dia sebagai mahasiswa. Waktu itu, promosi film Ayat Ayat Cinta yang belum tayang, melalui soundtracknya yang sangat menyentuh, sudah gencar di radio-radio. Semuanya membuat aku menjadi sangat penasaran dengan novel tersebut.
    Akhirnya novel Ayat Ayat cinta sudah ada ditanganku. Dengan tak sabar kubuka dan kubaca novel tersebut, halaman demi halaman. Dan akupun tenggelam, larut kedalam imajinasi Ayat Ayat Cinta. Narasi dan desripsi yang indah dan sangat jelas, membuatku serasa ikut berada di dalam setiap adegan.  Bagaimana aku kepanasan saat berada dalam metro. Sedihnya aku kala cinta tak tercapai. Marah dan tidak terimanya aku pada keadaan yang sangat menyudutkan. Getaran hati saat romantika menjelang. Menikmati indahnya sungai Nil. Cinta dan komitmen yang kokoh dipegang kala putusan sudah diambil. Semuanya sangat bisa kurasakan dan memberikan banyak pembelajaran. Dan yang pasti sabar atas segala cobaan dan bersyukur atas semua anugrah yang diberikan
    Begitu selesai membaca novel tersebut, aku benar-benar merasa mendapat suatu berkah dan kebahagiaan. Aku merasa beruntung sekali masih diberi kesempatan di hidup aku yang singkat ini untuk membaca sebuah novel yang menurutku sangat indah. Indah menurutku karena bisa memasukkan unsur-unsur islami ke dalam sebuah novel percintaan, dan tidak membuatnya menjadi vulgar.

Blog EntryMay 12, '08 9:25 AM
for everyone
wah.. benar-benar ya....?
i'm addictec to flickr. Go flickring....
Padahal mesti bejibun nama dan alamat undangan untuk pernikahan adikku, Ago,
yang harus dikerjakan.
Akhirnya benar saja, belum selesai di ketik, print dan tempel, mama sudah datang ke studio Arow'93 untuk mengambil undangan tersebut untuk segera di distribusikan.
Jadinya kerja di teruskan di halaman depan studio. Ternyata asyik juga kerja disana, kerja juga lebih cepat. Hanya sebentar, semua sudah beres dan undangan siap edar.



Blog EntryMar 7, '08 7:21 AM
for everyone
"ini untuk dimasukkan ke kotak amal" kata Abe sambil menyerahkan lembaran uang ke Ibn Danish. Ibn lalu mengambilnya dan melihat kesekeliling dimana letak kotak amal berada. Abe yang melihat Ibn celingukan, "itu, kotak amalnya masih sebelah sana." Ibn berdiri agar dapat melihat dengan lebih jelas letak kotak amal. Abe pun berkata, "tunggu saja, kotak amalnya akan keliling, nanti juga sampai sini." Tapi Ibn Danish yang sudah tidak sabar, "Uuuggghhhh... lama sekali sih!" Abe langsung membalas,"sabar Ibn." tapi Ibn langsung menukas, sambil setengah berteriak,"Iya tapi kenapa lama sekali?". Abe menjawab, "Ibn, sabar dan ngomongnya pelan-pelan."

Waktu selesai shalat Jumat, karena ada sebagian jamaah yang masih berdoa, dan sebagian lagi beranjak pulang, Ibn langsung mengajak,"tuh udah selesai shalatnya, ayu.. Abe, tuh...tuh... orang-orang dah pulang." Abe yang masih duduk berdoa menyahut,"iya, tapi kita kan mau berdoa dulu." Setelah selesai berdoa, "Ini uang untuk bayar penitipan sandal, kasih sekalian sama tiket bernomor yang Ibn pegang." kata Opa kepada Ibn. "Iya Opa." dan Ibn pun langsung berlari menuju ketempat penitipan sandal. Opa pun kontan,"Eh... tunggu dulu." Tapi Ibn dah lari jauh menuju ke tempat penitipan sandal. Disana Ibn bener-bener yang paling kecil. Nyelip, berusaha mendapatkan sandalnya.

Aduh.. Ibn bener-bener ga sabaran, kaya siapa ya...?

"Tuh, anak itu tadi ga shalat Abe", kata Ibn. Abenya pun langsung menukas,"Ibn juga ga shalat ya? koq bisa liat?" he he he, Ibn langsung diam ga bales jawab seperti biasanya.

Blog EntryMar 6, '08 10:33 AM
for everyone
"Sudah selesai meetingnya?" Vera bertanya mesra ke Rio, karena Vera tau pasti Rio lelah. "Baru saja, dan sekarang aku sedang beres-beres." balas Rio lewat telpon yang dijepit antara dagu dan pundaknya, karena kedua tangannya sibuk membereskan berkas-berkas meeting tadi. "Ok. Vera kira-kira 1 jam lagi sampai di kantor love, Vera tunggu di lobi seperti biasa ya?", Vera kembali bertanya sambil melirik kaca spion belakang, karena sepertinya ada yang menabrak mobilnya dari belakang. Tapi karena tak terlalu kencang, Vera tak memperdulikannya. "Ok, see you there, mmmuuaaacchhhh!" balas Rio. "Muuuaacchhh...." balas Vera, dan kemudian kedua menutup telpon.

"Kau mau aku yang nyetir?" tanya Rio dari jendela sopir yang dibuka Vera, saat Rio menghampiri mobil Vera yang berhenti di depan lobi kantornya. "Aku aja ya, yang nyetir?" bales Vera. "Ya sudah, terserah kamu." jawab Rio sambil berjalan menuju kursi penumpang depan. Setelah duduk, Rio meletakkan peralatan kerjanya di bangku belakang, sambil mencium pipi Vera sekilas. Kemudian mereka berciuman sebentar, lalu Vera melajukan XC 90 warna merah marun menuju bandara Soekarno Hatta.

"Ada camilan dan green tea buat love." sahut Vera sambil melirik mesra. "Pingin nyemil kan abis meeting 4 jam?".

to be continued...

Blog EntryMar 6, '08 9:54 AM
for everyone
Dear Rio,
Rasa rindu ini benar-benar tak tertahankan. aku menunggu dan menunggu dan terus menunggu. tapi kesempatan itu tak kunjung tiba. Aku tau aku harus sabar, aku tau aku harus pasrah, aku tau aku harus bisa menerima semua ini, karena memang begitulah keadaannya. Waktu memang bukan aku yang punya. jadi aku hanya bisa pasrah. oh... Rio taukah kau betapa merindunya diriku ini padamu? aku hanya ingin memelukmu sebentar saja. merasakan debar jantungmu, mencium wangi tubuhmu, dan menikmati lembutnya bibirmu.

Apakah aku begitu terlarang bagi mu? atau memang waktu yang berkata demikian?

Blog EntryMar 6, '08 7:21 AM
for everyone
Setelah parkir mobil di Hotel Nikko, setengah berlari aku menyeberang menuju Starbuck Coffee di Plaza Indonesia. Waktu telah menunjukkan pukul 10.30 lewat. Wah... telat lagi aku... Sesampainya di starbuck, benar saja rombongan Dad sudah tak ada. Iya... Wimar dan IMXer sudah ga ada di Starbuck, o...o... Lalu aku langsung setengah berlari lagi menuju ke Food Hall. He he he... senangnya, mereka masih ada di luar. Aku segera bergabung, untuk mengikuti acara pembukaan Australian Food Festival di Food Hall Sogo, Plaza Indonesia. Peresmiannya (pembukaannya) biasalah... dibuka dengan pidato, disambung dengan anak-anak dari Australian School menyuguhkan nyanyian.

Setelah pemotongan pita, kita semua rombongan masuk, untuk melihat2 produk Australia yang dijual. Tiba2 ada seorang wanita memakai setelan jas hitam-hitam menghentikan langkah. O...o.. aku langsung berhenti. "Kenapa wanita ini menghentikanku? apakah aku tak boleh ikut masuk bersama Dad-Dad?" Karena memang di sana ada beberapa orang bertampang bodyguard yang berjaga-jaga. "wah..." Sebelum aku bertanya ada apa, wanita tersebut menegurku,"Kania...? koq ada disini?" he he he... ternyata yang menghentikan langkahku tadi adalah Bi Tita, salah seorang tanteku. Dia yang ternyata meng organize acara Australian Food Festival ini. Saat itu juga Bi Tita sedang bersama seorang bule, dan dia sibuk menerangkan macam-macam. He he he... kirain, aku ga boleh masuk. Rombongan berjalan pelan, sambil sesekali melihat produk makanan Australia yang ditawarkan. Ya... aku sih cuma sibuk memfoto Dad. Dan di bagian belakang Food Hall, itu yang paling menarik. MAKAN SIANG GRATIS LENGKAP yang di masak oleh koki JW Marriot.

Udah dech lupakan foto-foto, lupakan Dad. Aku langsung menyerbu makanan yang tersedia. All you can eat buffet lunch and free flow drinks. Ada aneka cheese + cracker, aneka pasta, italian food, steak, australian food, cake and jelly, lemonade, iced water, and the best is free flow white wine and red wine.
Asyik... siang yang menyenangkan. terima kasih Dad, aku dah diajak.

Sambil makan, Dad di wawancara SCTV. diajak ngobrol dan berfoto bersama oleh banyak orang. sedangkan aku? aku sibuk menyimak Willam Wongso yang sedang demo masak, menggunakan produk-produk Australia. Seru... Masak berbagai jenis makanan cepat banget, dan ENAK banget. Dan karena penuh asap, kata presenternya, waktu kita pulang, harus mandi dan cuci rambut, secara memang kita semua jadi bau masakan. Aku masih betah menyimak William Wongso saat Dad dan IMXer pergi untuk melanjutkan acara intern, di tempat lain.

13:20:56 jam di karcis parkir keluar, lama parkir : 3 Jam 0 menit. He he he.. asyik ya bisa pas banget! jarang-jarang tuh. Harus dipigura itu karcis. Apa coba?! Wah.. masih siang, belum 3 in 1, masih sempet nich ngeweb gratis dan baca-baca buku di Freedom Institute (perpustakaan). Meluncurlah aku ke Freedom, yang terletak di belakang hotel Nikko, Jl. Irian No.8. Di sana baca-baca jurnal tentang Climate Change. Lanjut ngobrol sama teman-teman di freedom sambil browsing climate change, dan yang paling penting CHATTING! he he he. Iya nich, aku kecanduan chatting.

Pulang sebelum 3 in 1 di Sudirman, tetep aja dah lumayan macet. Tapi ga apa, aku mendingan lewat Sudirman dech daripada lewat Kuningan. Secara aku pernah lewat Kuningan dan kakiku sakit sampai 2 hari, gara-gara nginjek kopling, macet panjang banget. Tadi sih ga kerasa macet di Sudirman, karena ada teman yang setia menemani kemacetan, yaitu lagu cinta yang mendayu-dayu dan telpon dari seorang sahabat (dengan hand free tentu telponya), sepanjang jalan sampai rumah, he he he. Thank you my friend for accompany me through traffic jam all the way home. Dia ga peduli telpon aku berjam-jam.


Blog EntryFeb 14, '08 12:27 AM
for everyone
Hari masih pagi, matahari pun masih malu-malu untuk menampakkan diri. Tapi aku sudah melaju dengan mobilku ke arah kantor Rio. Di dalam mobil musik dengan nada-nada cinta mengalun menemaniku, membuaiku dalam lamunan, memeluk hatiku yang penuh dengan rindu. Kadang aku tersenyum sendiri, mengingat semua kebersamaanku dengan Rio. "Ah... Rio, tidakkah kau tau betapa rindunya aku padamu?". Ku pacu mobilku, sama seperti jantungku yang bepacu cepat, menahan rindu.

Perjalanan menuju kantor Rio serasa sangat jauh dan panjang. aku sungguh tak sabar ingin jumpa dengannya. Akhirnya aku sampai di depan lobi kantor Rio. Ia sudah menungguku disana, berdiri dengan gagah. Oh... my prince, you are really so charming. Melihatnya berdiri disana membuat jantungku berdegub, bertambah kencang. Ia tersenyum dan melangkahkan kakinya menghampiri mobilku. Masuk dan duduk di kursi penumpang depan. Wangi semerbak tubuhnya membuatku lemas. "Pagi Vera..." katanya sambil meremas tanganku. "pagi..." balasku dengan senyuman, menahan diri untuk tidak menciumnya.

Mobil pun bergerak menuju tempat parkir. Setelah ku parkir mobilku, aku sungguh tak sanggup lagi menahan diri, kucium Rio dengan mesra. Kami pun berciuman dan berpelukan melepas rindu. Jantungku bergetar bertambah hebat, tanganku gemetaran, hatiku begitu... Ah.... Semua serasa bagaikan...Wangi tubuh Rio, kehangatan ciumannya, dan kemesraan pelukannya, benar-benar membuat hatiku luluh. Setelah rasa rindu terobati, kami pun mengobrol, menanyakan kabar dan berbagi cerita, sambil berpegangan tangan.

Obrolan kami lanjutkan sambil berjalan kaki mencari sarapan pagi. Hari itu kami memilih sarapan bubur ayam. Bubur ayam yang hangat dan lembut, rasanya pas dengan keadaan hatiku saat itu. Setelah sarapan dan bercerita berbagai hal, tak terasa sudah waktunya Rio masuk kantor, aku pun harus melanjutkan kesibukanku. Bye...bye... my love... see you later. Argh.... tapi berat hatini untuk berpisah dengannya. Menghitung hari kembali untuk bertemu lagi dengannya, entah kapan...

(this is Rio and Vera love story)

Pages:12